Kita mungkin sudah tidak asing mendengar nama Museum House of Sampoerna, namun bagaimana kisah sejarah pada masa perang Surabaya dibalik megahnya bangunan yang dahulu pernah berfungsi sebagai gedung bioskop ini ?
Berikut adalah kutipan dari buku "Pertempuran Surabaya" yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto pada halaman 154-155 :
Pertahanan disekitar bioskop
Sampoerna dan pabrik rokok Lien Sing Tee pada pagi hari 10 November
dipertahankan oleh para pejuang berjumlah lebih kurang 100 orang terdiri dari
pemuda PRI serta dari badan-badan perjuangan lainnya. Mereka kebanyakan berasal
dari Tambak Bayan, Nggringsing, Kebalen, Labuan.
Ikut sertanya mereka disektor
pertahanan tersebut umumnya atas kehendak sendiri tanpa ada yang
mengkoordinasi. Dua malam sebelum pertempuran terjadi, ketempat tersebut telah
bergabung 20 orang pemuda bersenjata lengkap. Mereka umumnya menggunakan
seragam tentara Jepang. Usia mereka berkisar antara 17 sampai 20 tahun.
Setelah selesai melakukan bombardemen yang dimulai sejak pukul 10.00, Inggris mulai menggerakkan tank dan infanterinya. Dalam pertempuran dimuka bioskop Sampoerna dengan pasukan gurkha yang mengambil posisi pertahanan dimuka pertahanan para pemuda telah jatuh korban pertama dipihak pemuda Indonesia berusia sekitar 17 - 18 tahun tanpa diketahui identitasnya ( sumber : “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, Suara Karya 11 November 1974 ). Korban kemudian yang gugur disektor pertahanan bioskop Sampoerna berjumlah tujuh orang.
Setelah selesai melakukan bombardemen yang dimulai sejak pukul 10.00, Inggris mulai menggerakkan tank dan infanterinya. Dalam pertempuran dimuka bioskop Sampoerna dengan pasukan gurkha yang mengambil posisi pertahanan dimuka pertahanan para pemuda telah jatuh korban pertama dipihak pemuda Indonesia berusia sekitar 17 - 18 tahun tanpa diketahui identitasnya ( sumber : “Kisah Kapten Muslimin Tentang Pahlawan Tak Dikenal”, Suara Karya 11 November 1974 ). Korban kemudian yang gugur disektor pertahanan bioskop Sampoerna berjumlah tujuh orang.
Mereka yang gugur dalam
pertempuran didepan bioskop Sampoerna merupakan korban pertempuran pertama dari
semua front pertempuran Surabaya. Karena adanya tekanan dari Inggris akhirnya
para pemuda mundur ke kampung Pesapen dan viaduct. Dalam rangkaian bombardemennya
Inggris berhasil menghancurkan bangunan Hoofd Bureau terutama bagian muka dan
belakang gedung tersebut.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar